SEKILAS INFO
14-01-2026
  • 1 tahun yang lalu / “Jangan pernah berhenti belajar, karena hidup tidak pernah berhenti mengajar.” – Anonymous
  • 1 tahun yang lalu / “Setiap anak adalah seorang seniman. Tantangannya adalah bagaimana tetap menjadi seniman ketika mereka dewasa.” – Pablo Picasso
  • 1 tahun yang lalu / “Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kamu gunakan untuk mengubah dunia.” – Nelson Mandela
20
Nov 2025
0

Dalam rangka mewujudkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk perundungan, SMP Negeri 1 Aranday melaksanakan Projek Ko-Kurikuler “Sekolah Anti Bullying” selama enam hari berturut-turut. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai bahaya bullying serta mengembangkan sikap empati, toleransi, dan saling menghargai antarsesama. Melalui rangkaian eksplorasi, diskusi, kreasi, hingga aksi kampanye nyata, seluruh peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran bermakna yang menumbuhkan karakter positif sesuai dengan 8 dimensi profil lulusan.

Kegiatan hari pertama dibuka dengan salam, doa, dan ice breaking “Kalau Aku Jadi Dia” yang menciptakan suasana empatik dan saling menghargai. Peserta didik mengikuti tes diagnostik awal untuk mengukur pemahaman mereka terkait bullying. Selanjutnya, siswa berdiskusi mengenai jenis-jenis bullying fisik, verbal, sosial, dan siber serta menonton video edukatif untuk mendalami dampak perundungan. Melalui refleksi pribadi “Pengalamanku dengan Bullying”, siswa menuliskan pengalaman dan pandangan mereka, sehingga hari pertama ditutup dengan simpulan nilai empati dan rasa saling menghargai.

Pada hari kedua, peserta didik diajak menelaah berbagai studi kasus mengenai perasaan korban bullying. Diskusi kelompok menghasilkan analisis tentang dampak emosional dan sosial yang dialami korban. Melalui kegiatan role play, siswa memerankan pelaku, korban, dan saksi sehingga mereka dapat memahami peran sosial masing-masing dalam situasi bullying. Kegiatan ditutup dengan refleksi pribadi “Aku Tidak Ingin Melihat Bullying Lagi” yang semakin menumbuhkan kesadaran diri.Memasuki hari ketiga, siswa diajak bermimpi tentang “Sekolah yang Aku Impikan”. Ide-ide bentuk kampanye anti perundungan digali melalui sesi brainstorming mengenai slogan, pesan utama, dan simbol kampanye. Peserta didik kemudian mulai membuat konsep awal poster dalam bentuk sketsa. Setiap kelompok mempresentasikan ide mereka dan saling memberi umpan balik untuk menyempurnakan konsep poster yang akan dibuat. Pada tahap kreasi, peserta didik mulai menuangkan kreativitas mereka melalui kegiatan pembuatan poster, baik secara manual maupun digital. Setiap kelompok bekerja kolaboratif menghasilkan karya terbaik yang berisi pesan kuat tentang anti bullying. Setelahnya, dilakukan sesi peer review untuk memberikan evaluasi antarkelompok. Kegiatan ditutup dengan refleksi harian terkait proses berkarya dan pesan yang ingin disampaikan. Hari kelima menjadi puncak aksi nyata dari seluruh rangkaian projek. Poster-poster karya siswa dipamerkan di lingkungan sekolah, disertai presentasi kelompok yang menjelaskan pesan dan makna kampanye anti bullying. Seluruh warga sekolah kemudian mengikuti Deklarasi Sekolahku Zona Aman dan Nyaman sebagai bentuk komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan bebas perundungan. Kegiatan ditutup dengan dokumentasi foto dan video. Pada hari terakhir, peserta didik melakukan refleksi individu mengenai perubahan sikap yang mereka rasakan selama projek. Refleksi kelompok juga dilakukan untuk mengevaluasi kerja sama, proses pembelajaran, dan dampak kegiatan. Sebagai bentuk apresiasi, sekolah memberikan penghargaan kepada karya poster terbaik serta peserta didik yang menunjukkan sikap inspiratif. Projek ditutup secara resmi dengan pesan nilai-nilai pengetahuan, karakter dan harapan agar budaya anti bullying terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.